And never did once I wrote about my Dad.
Not just in this personal blog of mine.
I never wrote anything about him, anywhere.
Well, I guess I'll do it now.
Jumat, 22 September 2017
Jujur saja tidak ada firasat apapun yang aku rasakan sebelum kepergian Bapak keesokan harinya. Hari-hari sebelumnya aku membuat janji dengan teman-teman masa SMA ku dulu untuk pertemuan rutin kami tiap 3 bulan sekali. Kami memutuskan untuk bertemu di hari Sabtu. Semua sudah setuju. Akupun begitu. Namun segera setelah aku menyutujuinya, aku berubah pikiran.
"Maaf aku tiba-tiba ngga bisa hari Sabtu, ada acara mendadak, maaf banget yaaaa. Hari Minggu gimana?"
Aku bohong. Aku tak punya rencana apapun di hari Sabtu. Hari itu. Hari dimana Allah memutuskan untuk memberi ujian terberat dalam hidup kami. Lalu bisakah ini aku sebut firasat? Kalau memang betul itu dinamakan firasat, aku merasa sangat bersyukur karna aku merasakannya. Aku membayangkan kalau saja aku menyanggupi untuk pergi hari itu.. bisa-bisa aku sedang berada di luar dan tidak di rumah, tidak mengantar Bapak ke Rumah Sakit, tidak memegang tangannya terakhir kali sebelum Beliau pergi untuk selama-lamanya. Aku bersyukur untuk itu..
Sore itu di hari Jumat, sebenarnya aku berniat untuk lembur di kantor, sebelum aku berjanji kembali ke kantor, aku pamit ke teman kantorku,
"Aku pergi sebentar, beli barang, nanti aku balik, beneran, kabarin aja kalo masih lama."
Lagi-lagi aku bohong. Aku mengurungkan niat untuk kembali ke kantor dan langsung pulang ke rumah. Sampai rumah Bapak dan Ibu sedang bersiap-siap pergi. Seringnya aku cuek, malam itu tidak, aku penasaran.
"Bapak sama Ibu mau kemana?"
"Nobar G30SPKI di Rindam."
"Hah? Film baru Bu? Kenapa kok baru ditonton sekarang?"
"Ya engga lah film lama, masa kamu gatau."
"Yaudah aku ikut yah."
"Terserah tapi paling isinya Ibu-ibu sama Bapak-bapak"
"Emang keluarganya ngga ada yang ikut apa?"
"Ya gatau yaudah ikut aja."
Kadang Ibu memang seperti itu. Malas menunggu anak perempuannya siap-siap karna biasanya lama. Beda dengan Bapak, kalau aku belum mandi pun pasti ditunggu, saking semangatnya tau anaknya mau ikut. Seperti biasa, kalau perjalanan jarak dekat aku memilih duduk depan, sebelah Bapak, Ibu di belakang.
Sepanjang film diputar Bapak duduk disebelahku. Sambil makan kacang dan pisang rebus, Bapak ambil dari meja, aku ambil dari tangan Bapak. Dua jam setelah acara selesai kami pulang berbekal kenyang, ngantuk, capek, dan ketidakpahaman akan film. Bapak paham, Ibu juga, hanya aku yang tidak.
"Bapak, itu filmnya ngapain sih kok aku ngga paham sama sekali yah? Filmnya juga macet-macet, suaranya ngga jelas."
"Iya Nduk banyak yang dihilangin adegannya seharusnya filmnya bisa sampe 3 jam, tadi cuma sekitar 1 jam, harusnya ada adegan Jenderalnya didatengin satu-satu trus dibunuh tapi tadi yang dilihatin cuma adegan Ade Irma Suryani"
"Oh pantesan aku ngga paham."
Sesampainya di rumah aku langsung bersih-bersih dan siap-siap tidur. Tak ada yang aneh. Padahal bukankah seharusnya aku tidak merasa begitu? Itu malam terakhir Bapak tidur di rumah. Satu atap dengan kami. Aku bersyukur malam terakhir aku habiskan duduk di sebelah Bapak, mendengar suararanya, dan bersandar di tangannya.
Sabtu, 23 September 2017
Kegiatan rutin Bapak dan Ibu kalau hari Sabtu? Jemput cucu kesayangan. Kalau dulu aku selalu ikut. Belakangan sudah jarang. Bahkan tak pernah. Aku merasa sangat lelah hari itu. Hanya tidur-tiduran, mendengarkan musik, tidur-tiduran lagi. Di dalam kamar, sendirian. Selalu begitu. Keluar kamar seperlunya. Sekitar jam 2 siang aku keluar kamar, aku lihat Bapak tiduran di kasur depan TV. Mungkin kelelahan habis jalan-jalan dengan cucunya. Tapi Bapak terlihat pindah-pindah posisi tidur. Seharusnya aku peka. Mungkin saat itu Bapak sudah merasa gelisah karna kesakitan? Atau mungkin itu hanya perkiraan yang aku buat-buat sendiri. Semoga saja itu memang hanya pemikiran yang aku lebih-lebihkan. Aku tak ingin menambah daftar panjang penyesalanku dengan ketidakpekaanku saat itu.
Selesainya dari kamar mandi, aku kembali masuk kamar. Jam 3 lebih sedikit aku merasa ingin keluar kamar. Saat aku keluar, aku lihat Bapak sudah ganti baju mondar mandir entah mencari apa, dengan keringat dingin yang terus keluar.
"Keluarin mobil. Anterin Bapak ke Rumah Sakit."
Aku mendengarnya dengan jelas tapi aku masih ragu. Rumah Sakit? Mau apa? Bapak tak pernah mengeluh sakit, apalagi sampai minta diantar ke Rumah Sakit. Instruksinya jelas. Rumah sakit. Dengan segala keraguan dan kebingungan aku keluarkan mobil dari garasi, aku akan bertanya lagi saat mobil sudah siap, pikirku.
Bapak masuk mobil, dan mengatakan tempat tujuan yang sama.
"Ke RST Nduk, UGD."
Aku masih bingung, tapi tak lagi ragu. Aku lihat Bapak sangat kesakitan, dengan bermandikan keringat Bapak terus memegang dadanya. Yang ada di pikiranku hanya RST, ngebut, secepatnya sampai.
Begitu sampai di RST Bapak masih bisa jalan sendiri tapi langkahnya agak lemah.
"Ikutin Bapak. Kamu di belakang Bapak."
"Mobilnya?"
"Kamu parkir dulu trus ikutin Bapak."
Setelah parkir aku masuk UGD, menyusul Bapak yang sudah berbaring di sana, masih sadar, dan sedang diperiksa dokter. Trauma Vertebralis. Aku lihat dengan jelas diagnosanya. Tapi dokter belum menyampaikannya kepadaku. Aku tengok ke arah Bapak. Masih kesakitan. Kenapa Bapak masih kesakitan padahal sudah diperiksa?
"Mba ini HP, jam sama cincinnya Bapak bisa minta tolong diambil dulu?" kata Suster yang sedang memeriksa Bapak.
Sambil berusaha melepas jam dan cincin yang dipakai Bapak aku sempatkan menggenggam tangannya. Hangat. Masih terasa sampai sekarang. Kalian mungkin menganggapku berlebihan. Tapi aku serius. Aku masih ingat hangatnya tangan Bapak saat terakhir kali aku genggam.
"Bapak, aku jemput Ibu dulu aja apa?"
"Ga usah Nduk, dikasih tau aja."
Bapak sepertinya tak ingin merepotkan Ibu yang saat itu sedang mengurus cucunya yang masih balita.
"Mba ini diregistrasi dulu untuk keperluan obname nya di loket 2." kata dokter jaga saat itu.
Tanpa pikir panjang aku telpon Ibu.
"Bu Bapak di obname, Ibu ke RST sekarang ya."
Mungkin Ibu bingung padahal baru beberapa menit yang lalu terlihat sehat di rumah kok tiba-tiba di Rumah Sakit harus di obname.
"Sakit apa Nduk? Harus di obname apa?"
"Pokoknya Ibu ke Rumah Sakit aja sekarang. Bapak kesakitan. Nanti biar Dekna aku yang nganter ke Kutoarjo, Ibu nungguin Bapak."
Salah satu adikku harus kembali ke Bekasi sore itu, paling tidak jam 4 sudah harus berangkat dari rumah. Setelah urusan di loket selesai, aku kembali ke ruang UGD dan harus mengisi berkas-berkas. Saat sedang melengkapi berkas obname Bapak, Ibu telpon ke HP Bapak yang sudah aku bawa. Aku tengok Bapak seperti sedang tidur, tapi tidak menghadap ke arahku. Karna aku sedang cukup diribetkan berkas-berkas dan tak ingin mengganggu tidur Bapak, aku tak mengangkat telpon dari Ibu. Jika saat itu aku mengangkat telpon dari Ibu, mungkinkah aku sebenarnya bisa memberikan Ibu kesempatan untuk berkomunikasi dengan Bapak untuk yang terakhir kalinya? Aku juga tak ingin bagian ini menjadi penyesalanku.
Belum selesai aku mengisi seluruh berkas-berkas, ....
skip.
skip.
skip.
(jujur paling ngga kuat menceritakan bagian ini)
skip.
skip.
skip.
Aku telpon adik yang saat itu ada di rumah dengan Ibu.
"Anter Ibu sekarang ke RST yang UGD, Bapak udah hilang kesadaran. Anter sekarang lewat jalan besar ngga papa."
"Ibu masih mandi."
"Suruh keluar kamar mandi sekarang dan berangkat ke Rumah Sakit sekarang. Pokoknya lewat jalan besar aja biar cepet."
Dokter datang. Saat itu hanya ada dokter jaga karna hari Sabtu. Dokter Umum. Dokter spesialis belum ada di tempat. Jadi dokter umum koordinasi sama dokter spesialis via whatsapp. Bapak sudah masuk ruang penanganan.
"Mbak ini Bapaknya ternyata kena jantungnya. Barusan jantungnya sempat berhenti. Tapi sudah dikasih suntik *lupa* untuk memacu denyutnya. Sebenarnya saya sudah curiga karna tadi saat EKG ada penurunan bla.. bla..bla.."
Dia terus menerangkan dengan bahasa kedokterannya, aku benar-benar tidak bisa mencernanya dengan baik, karna baru saja menyaksikan bagian yang aku skip. Jantungku berdetak luar biasa kencang. Kalau memang sudah curiga jantung kenapa harus didiagnosa Trauma Vertebralis?
"Dok saya boleh pulang sebentar? Saya mau jemput Ibu saya."
"Mba ini Bapaknya lagi kritis lho, harus ada anggota keluarga yang nungguin karna kalo ada tindakan-tindakan kita ngga bisa memutuskan."
Aku mondar mandir menunggu adik dan Ibuku yang tak kunjung datang. Lalu menelpon kakakku.
"Mba Ingga, Bapak masuk UGD di RST, sekarang lagi masuk ruang penanganan, jantungnya sempet berhenti tapi ini lagi ditangani."
"Hah?? Iya apa dek Ani?? Aku kesana sekarang."
"Jemput dek Zara sama dek Elang dulu yah di rumah."
Saat Ibu dan Adikku datang aku langsung menyiapkan tempat duduk untuk Ibu.
"Ibu duduk aja ngga usah jalan-jalan atau berdiri."
Aku takut. Akan segala kemungkinan terburuk. Aku takut Ibu tidak kuat. Sudah setengah jam Bapak ditangani tapi kesadarannya terus menurun. Aku hanya bisa memanjatkan doa dan janji-janji pada Allah kalau Bapak bisa sadar kembali. Tapi aku ini siapa berani-beraninya menantang Allah dengan janji-janji? Astagfirullah..
Ibu memaksa masuk ke ruang penanganan dan tak lama kemudian dokter menyatakan bahwa Bapak sudah tidak ada. Lemas rasanya. Apalagi melihat Ibu masih memanggil-manggil nama Bapak sambil terus mengusap wajahnya. Sakit.. Ingin menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi Bapak tidak permah mengajarkan kami untuk jadi orang yang lemah. Kami kuat dan ikhlas, karna kami diajarkan begitu. Aku kemudian ikut mengusap wajah Bapak, lagi-lagi untuk yang terakhir kalinya.. Setelah Bapak ditutup dengan kain putih, aku keluar dari ruangan. Mengabari semua saudara-saudara. Tapi untuk adikku, bukan aku yang memberi kabar, aku tak sanggup membayangkan dia di Kalimantan sana tiba-tiba mendapatkan kabar buruk seperti ini.
Kami bersiap-siap untuk memandikan jenazah Bapak. Kesempatan terakhir kami berbakti pada Bapak. Pemakaman dilaksanakan malam itu juga secara militer. Alhamdulillah banyak sekali orang yang datang dan ikut mendoakan Bapak. Kalau bisa jujur sebenarnya aku ingin sekali menyendiri hari itu, tapi banyak teman-teman yang datang, mereka tamu dan harus dimuliakan, aku keluar dan menyapa mereka, memasang senyum terbaik dan berusaha terlihat tegar padahal aku merasa tak sekuat itu. Sakit sekali rasanya malam itu. Tapi aku bersyukur aku masih dikelilingi orang-orang baik yang masih sangat peduli. Alhamdulillah.
---------------------
Bapak... Bapak udah tenang yah disana? Alhamdulillah. Insha Allah doa kami untuk Bapak ngga akan pernah putus. Ibu kangen. Kami juga. Itu pasti. Apalagi belum genap 40 hari kepergian Bapak. Tapi kami saling menguatkan. Jadi kami baik-baik saja disini.
Dek Ani ngga pernah membayangkan kalo ternyata bukan Bapak Wali Nikah dek Ani kelak. Bukan Bapak yang nemenin Ibu ke pelantikan Dekna & Mbakwa insha Allah tahun depan dan 2 tahun lagi. Bukan Bapak yang nganterin dek Elang daftar kuliah setelah dia lulus SMA. Tapi walaupun Bapak sekarang udah ada di tempat lain, insha Allah semua akan tetap berjalan baik.
Banyak penyesalan yang sebenernya nggak pingin dek Ani sesalin, pingin minta maaf langsung ke Bapak, tapi dek Ani yakin Bapak pasti sudah memaafkan, dek Ani pun begitu ke Bapak.
Bapak ngga perlu khawatir disana, selalu ada nama Bapak di doa kami, dari pagi hingga pagi lagi. Dari kami terbangun hingga kami tertidur lagi.
Ini sudah rencana Allah dan ini yang terbaik. Alhamdulillah, Al Fatihah.
--------------------
No comments:
Post a Comment